Rabu, 29 November 2017

MEMAHAMI UNSUR INSTRINSIK NOVEL REMAJA (ASLI ATAU TERJEMAHAN) YANG DI BACAKAN


BAHASA INDONESIA
SK: 13. Memahami unsur intrinsik novel remaja (asli atau terjemahan) yang dibacakan
KD: 13.1 Mengidentifikasi karakter tokoh novel   remaja (asli atau terjemahan) yang dibacakan
        13.2 Menjelaskan tema dan latar novel remaja   (asli atau terjemahan) yang dibacakan
        13.3 Mendeskripsikan alur novel remaja (asli   atau terjemahan) yang dibacakan

Novel adalah cerita atau prosa panjang yang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang-orang sekelilingnya, dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku.
Unsur-unsur intrinsik novel antara lain karakter, tema, latar, aluramanat , gaya bahasa, penkohan,dan sudut pandang . Karakter (perwatakan atau    pertokohan) adalah pelukisan mengenai tokoh cerita baik keadaan lahir batinnya, pandangan hidupnya, sikapnya dan sebagainya.
Ada beberapa cara mengenali karakter tokoh dalam novel, antara lain:
Melalui perbuatan atau tindakan-tindakannya
Melalui ucapan-ucapannya
Melalui penggambaran fisiknya, misalnya cara berpakaian, bentuk tubuhnya dan sebagainya
Melalui pemikirannya
Melalui penjelasan langsung oleh si pengarang
Kedudukan atau karakter tokoh dalam novel ada beberapa macam, antara lain:
vProtagonis atau tokoh utama
Tokoh yang menjadi sentral atau pusat penceritaan dan bertugas sebagai penggerak cerita.
vAntagonis atau tokoh lawan
Tokoh yang bertugas menghalangi sesuatu yang berkaitan dengan tokoh protagonis.
vPendukung cerita
Tokoh yang kehadirannya tidak begitu penting tetapi tidak dapat diabaikan sebagai pendukung cerita.

Simaklah kutipan novel berikut dengan saksama untuk melatih kemampuan kalian mengidentifikasikan karakter tokoh dalam novel!

Stasiun Kereta
Mereka turun dari kereta Oimachi di Stasiun Jiyugaoka. Mama menggandeng Tottochan melewati pintu pemeriksaan karcis. Totto-chan yang jarang sekali naik kereta, enggan mengulurkan karcisnya yang berharga. Ia memegangi karcisnya erat-erat. “Bolehkah aku menyimpannya?” Tottochan bertanya kepada petugas pengumpul karcis. “Tidak boleh,” jawab petugas itu sambil mengambil karcis dari tangannya. Totto-chan menunjuk kotak yang penuh dengan karcis. “Itu semua punyamu?” “Bukan, itu milik stasiun kereta,” jawab petugas itu sambil mengambil karcis dari orang-orang yang keluar stasiun. “Oh.” Totto-chan memandang kotak itu dengan penuh minat, lalu melanjutkan, “Kalau sudah besar, aku mau jadi penjual karcis kereta!” Petugas pengumpul karcis itu memandangnya untuk pertama kali. “Anak laki-lakiku juga ingin bekerja di stasiun kereta. Mungkin nanti kalian bisa bekerja samasama.” Totto-chan bergeser, menjauh selangkah agar bisa memandang si petugas pengumpul karcis. Laki-laki itu bertubuh gemuk, berkacamata, dan kelihatannya berhati baik. “Hmm.” Totto - chan berkacak pinggang dan mempertimbangkan gagasan itu dengan sungguh-sungguh. “Aku tak keberatan bekerja dengan anakmu,” katanya. “Aku akan memikirkannya. Tapi sekarang aku sedang sibuk karena aku mau pergi ke sekolahku yang baru.” Ia lari ke tempat Mama menunggu sambil berteriak, “Aku ingin jadi penjual karcis!” Mama tidak kaget. Dia hanya berkata, “Kukira kau ingin jadi mata-mata.” Berjalan sambil memegangi tangan Mama, Totto-chan ingat, sampai kemarin dia masih yakin ingin menjadi mata-mata. Tapi asyik juga kalau harus mengurusi sekotak penuh karcis kereta. “Aku tahu!” Gagasan hebat terlintas di kepalanya. Dia menengadah memandang Mama, lalu berteriak keras-keras, “Bukankah aku bisa jadi penjual karcis yang sebenarnya mata-mata?” Mama tidak menjawab. Wajah cantiknya yang ditudungi topi felt berhiaskan bunga-bungaan mungil tampak serius. Sebenarnya Mama sangat cemas. Bagaimana kalau sekolah baru itu tidak mau menerima Totto-chan? Dia memandang Totto-chan yang melompat-lompat sepanjang jalan sambil berbicara pada dirinya sendiri. Totto-chan tidak tahu Mama merasa khawatir. Jadi ketika mata mereka bersitatap, dia berkata riang, “Aku berubah pikiran. Aku akan bergabung dengan kelompok pemusik jalanan yang selalu berkeliling sambil mengiklankan toko-toko baru!” Suara Mama terdengar putus asa ketika berkata, “Ayo cepat! Kita bisa terlambat. Kita tidak boleh membuat Kepala Sekolah menunggu. Jangan ceriwis. Perhatikan jalanmu dan berjalanlah dengan benar.” Di depan mereka, di kejauhan, gerbang sebuah sekolah kecil mulai kelihatan. (Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela, Tetsuko Kuroyanagi)

Dalam memahami karakter tokoh dari sebuah novel yang diperdengarkan atau kalian simak, kalian tentu harus dapat menyimak dengan baik. Dalam hal ini, kalian harus benar-benar dapat menangkap isi cerita secara kronologis, detail, dan lengkap, terutama pada bagian-bagian yang berkaitan dengan penokohan.
Pada dasarnya, dalam sebuah novel terdapat beberapa karakter tokoh, yaitu:
1.
karakter yang berkaitan dengan posisi; tokoh utama, pembantu, tokoh biasa;
2.
karakter yang berkaitan dengan sifat; lembut, kasar, pemarah, sabar, gegabah, dan lain-lain;
3.  
karakter yang berkaitan dengan peran: antagonis, protagonis, dan netral.

Berkenaan dengan novel di atas, judul asli novel tersebut adalah Totto-chan. Berdasarkan kutipan novel di atas dapat diberikan beberapa simpulan berkaitan dengan karakter tokoh yang ada. Secara implisit (tersirat atau tidak dikemukakan langsung pada bacaan), karakter tokoh dalam kutipan novel tersebut sebagai berikut.

Totto-chan: seorang bocah yang aktif, cerdas, ingin banyak tahu, memiliki keinginan-keinginan pada hal-hal yang dianggap menarik, serta sayang terhadap barang atau benda yang dianggapnya berharga. Hal-hal tersebut dapat dilihat dalam kutipan pada paragraf pertama, paragraf 14, dan lainnya.
Mama: seorang yang cantik, terlalu mudah khawatir, perhatian, dan sedikit mudah putus asa. Hal tersebut dapat dilihat dari beberapa paragraf menjelang akhir kutipan.
Tukang karcis: tegas dan perhatian, gemuk, berkacamata, serta baik hati. Hal tersebut dapat dilihat pada awal cerita dan pada paragraf 8.
Tema adalah sesuatu yang menjadi dasar pembicaraan dalam cerita. Tema merupakan sesuatu yang menjiwai cerita. Tema sebuah cerita dapat ditentukan setelah cerita itu selesai dibaca atau didengarkan. Tema novel remaja biasanya berkisar masalah percintaan, kehidupan remaja di sekolah atau di kampus.


Latar (setting) merupakan lukisan tempat, waktu, dan suasana terjadinya peristiwa. Latar memberikan pijakan cerita secara konkret dan jelas. Latar dapat menciptakan kesan realistis dan menciptakan kesan seolaholah peristiwa peristiwa itu sungguh-sungguh ada.
Latar tidak hanya digambarkan secara fisik saja tetapi juga dapat berupa tata cara, adat istiadat, kepercayaan, nilai-nilai yang berlaku. Latar berfungsi agar cerita tampak lebih hidup serta menggambarkan situasi psikologis atau situasi batin tokoh.
Dalam menjelaskan tema dan latar novel, kalian perlu memerhatikan langkah-langkah berikut.
1.
Menyimak dengan konsentrasi, cermat, dan teliti.
2.
Memahami inti cerita yang dapat ditangkap secara utuh.
3.
Memerhatikan unsur-unsur intrinsik cerita, terutama berkenaan
dengan tema dan latar.

  Mendeskripsikan adalah memberikan gambaran atau sketsa mengenai sebuah perihal, sehingga penerima (pendengar atau pembaca) dapat menangkap perihal yang dimaksud dan memiliki gambaran dari perihal tersebut. 
   Alur adalah rangkaian peristiwa yang direka dan dijalin menjadi jalan cerita melalui kronologis peristiwa ke arah klimaks dan penyelesaian. Mendeskripsikan alur sebuah novel berarti memberikan penggambaran mengenai jalan cerita dan novel tersebut. Penggambaran itu meliputi jalan cerita dalam novel yang merangkai  peristiwa atau kisahan dalam novel.

Alur dapat dibedakan menjadi tiga yaitu:
1.     Alur maju, yaitu bagian alur disajikan secara berurutan dari tahap awal hingga akhir cerita  (alur progresif)
2.     Alur mundur, yaitu alur yang menceritakan lebih duli bagian akhir cerita baru menuju bagian awal atau alur yang menyampaikan suatu jalinan cerita urutan waktu yang terkini hingga waktu yang paling lampau (flashback)
3.     Alur maju mundur (gabungan), yaitu alur yang menceritakan secara kronologis, tetapi pada bagian tengah cerita disampaikan kejadian masa lalu atau sebaliknya.
Alur suatu cerita/novel terdiri atas:
1.Pemaparan/pendahuluan, yaitu merupakan bagian cerita temapat pengarangmulai melukiskan suatu keadaan yang menjadi awal cerita
2.Penggawatan, yaitu merupakan bagian yang melukiskan tokoh-tokoh dalam cerita mulai bergerak
3.Penjajakan, yaitu bagian cerita yang melukiskan konflik-konflik yang terjadi mulai muncul
4.Puncak/klimaks, yaitu merupakan bagian yang melukiskan peristiwa mencapai puncaknya
5.Peleraian, yaitu merupakan bagian cerita yang memberikan pemecahan dari semua peristiwa yang telah terjadi dalam cerita atau bagian-bagian sebelumnya.
Daftar pustaka :
qSarwiji, suwandi dan Sutarmo 2008. Bahasa Indonesia Bahasa Kebanggaanku untuk SMP/MTs kelas VIII. Jakarta : Pusat Perbukuab Departemen Pendidikan Nasional.
qLaksono, Kisyani dan Nurhadi. 2008. Contextual Teaching and Learning Bahasa Indonesia: Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah Kelas VIII Edisi 4. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional





Tidak ada komentar:

Posting Komentar