BAHASA INDONESIA
SK: 13. Memahami unsur intrinsik novel remaja (asli atau terjemahan) yang dibacakan
KD:
13.1 Mengidentifikasi karakter tokoh novel remaja (asli atau terjemahan) yang dibacakan
13.2 Menjelaskan tema dan latar novel remaja (asli atau terjemahan) yang dibacakan
13.3 Mendeskripsikan alur novel remaja (asli atau terjemahan) yang dibacakan
Novel
adalah
cerita
atau
prosa
panjang yang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang-orang sekelilingnya, dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku.
Unsur-unsur intrinsik novel antara
lain karakter, tema,
latar,
alur, amanat , gaya bahasa, penkohan,dan sudut pandang . Karakter (perwatakan atau pertokohan) adalah
pelukisan mengenai tokoh
cerita
baik
keadaan lahir
batinnya, pandangan hidupnya, sikapnya dan
sebagainya.
Ada
beberapa cara
mengenali karakter tokoh
dalam
novel, antara
lain:
•Melalui perbuatan atau tindakan-tindakannya
•Melalui ucapan-ucapannya
•Melalui penggambaran fisiknya, misalnya cara berpakaian, bentuk tubuhnya dan sebagainya
•Melalui pemikirannya
•Melalui penjelasan langsung oleh si pengarang
Kedudukan atau karakter tokoh dalam novel ada beberapa macam, antara lain:
vProtagonis atau tokoh utama
Tokoh yang menjadi sentral atau pusat penceritaan dan bertugas sebagai penggerak cerita.
Tokoh yang menjadi sentral atau pusat penceritaan dan bertugas sebagai penggerak cerita.
vAntagonis atau tokoh lawan
Tokoh yang bertugas menghalangi sesuatu yang berkaitan dengan tokoh protagonis.
Tokoh yang bertugas menghalangi sesuatu yang berkaitan dengan tokoh protagonis.
vPendukung cerita
Tokoh yang kehadirannya tidak begitu penting tetapi tidak dapat diabaikan sebagai pendukung cerita.
Tokoh yang kehadirannya tidak begitu penting tetapi tidak dapat diabaikan sebagai pendukung cerita.
•
•Simaklah
kutipan
novel berikut
dengan
saksama
untuk
melatih
kemampuan
kalian mengidentifikasikan
karakter
tokoh
dalam
novel!
Stasiun Kereta
Mereka turun dari kereta Oimachi di Stasiun Jiyugaoka. Mama menggandeng Tottochan melewati pintu pemeriksaan karcis. Totto-chan yang jarang sekali naik kereta, enggan mengulurkan karcisnya yang berharga. Ia memegangi karcisnya erat-erat. “Bolehkah aku menyimpannya?” Tottochan bertanya kepada petugas pengumpul karcis. “Tidak boleh,” jawab petugas itu sambil mengambil karcis dari tangannya. Totto-chan menunjuk kotak yang penuh dengan karcis. “Itu semua punyamu?” “Bukan, itu milik stasiun kereta,” jawab petugas itu sambil mengambil karcis dari orang-orang yang keluar stasiun. “Oh.” Totto-chan memandang kotak itu dengan penuh minat, lalu melanjutkan, “Kalau sudah besar, aku mau jadi penjual karcis kereta!” Petugas pengumpul karcis itu memandangnya untuk pertama kali. “Anak laki-lakiku juga ingin bekerja di stasiun kereta. Mungkin nanti kalian bisa bekerja samasama.” Totto-chan bergeser, menjauh selangkah agar bisa memandang si petugas pengumpul karcis. Laki-laki itu bertubuh gemuk, berkacamata, dan kelihatannya berhati baik. “Hmm.” Totto - chan berkacak pinggang dan mempertimbangkan gagasan itu dengan sungguh-sungguh. “Aku tak keberatan bekerja dengan anakmu,” katanya. “Aku akan memikirkannya. Tapi sekarang aku sedang sibuk karena aku mau pergi ke sekolahku yang baru.” Ia lari ke tempat Mama menunggu sambil berteriak, “Aku ingin jadi penjual karcis!” Mama tidak kaget. Dia hanya berkata, “Kukira kau ingin jadi mata-mata.” Berjalan sambil memegangi tangan Mama, Totto-chan ingat, sampai kemarin dia masih yakin ingin menjadi mata-mata. Tapi asyik juga kalau harus mengurusi sekotak penuh karcis kereta. “Aku tahu!” Gagasan hebat terlintas di kepalanya. Dia menengadah memandang Mama, lalu berteriak keras-keras, “Bukankah aku bisa jadi penjual karcis yang sebenarnya mata-mata?” Mama tidak menjawab. Wajah cantiknya yang ditudungi topi felt berhiaskan bunga-bungaan mungil tampak serius. Sebenarnya Mama sangat cemas. Bagaimana kalau sekolah baru itu tidak mau menerima Totto-chan? Dia memandang Totto-chan yang melompat-lompat sepanjang jalan sambil berbicara pada dirinya sendiri. Totto-chan tidak tahu Mama merasa khawatir. Jadi ketika mata mereka bersitatap, dia berkata riang, “Aku berubah pikiran. Aku akan bergabung dengan kelompok pemusik jalanan yang selalu berkeliling sambil mengiklankan toko-toko baru!” Suara Mama terdengar putus asa ketika berkata, “Ayo cepat! Kita bisa terlambat. Kita tidak boleh membuat Kepala Sekolah menunggu. Jangan ceriwis. Perhatikan jalanmu dan berjalanlah dengan benar.” Di depan mereka, di kejauhan, gerbang sebuah sekolah kecil mulai kelihatan. (Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela, Tetsuko Kuroyanagi)
Stasiun Kereta
Mereka turun dari kereta Oimachi di Stasiun Jiyugaoka. Mama menggandeng Tottochan melewati pintu pemeriksaan karcis. Totto-chan yang jarang sekali naik kereta, enggan mengulurkan karcisnya yang berharga. Ia memegangi karcisnya erat-erat. “Bolehkah aku menyimpannya?” Tottochan bertanya kepada petugas pengumpul karcis. “Tidak boleh,” jawab petugas itu sambil mengambil karcis dari tangannya. Totto-chan menunjuk kotak yang penuh dengan karcis. “Itu semua punyamu?” “Bukan, itu milik stasiun kereta,” jawab petugas itu sambil mengambil karcis dari orang-orang yang keluar stasiun. “Oh.” Totto-chan memandang kotak itu dengan penuh minat, lalu melanjutkan, “Kalau sudah besar, aku mau jadi penjual karcis kereta!” Petugas pengumpul karcis itu memandangnya untuk pertama kali. “Anak laki-lakiku juga ingin bekerja di stasiun kereta. Mungkin nanti kalian bisa bekerja samasama.” Totto-chan bergeser, menjauh selangkah agar bisa memandang si petugas pengumpul karcis. Laki-laki itu bertubuh gemuk, berkacamata, dan kelihatannya berhati baik. “Hmm.” Totto - chan berkacak pinggang dan mempertimbangkan gagasan itu dengan sungguh-sungguh. “Aku tak keberatan bekerja dengan anakmu,” katanya. “Aku akan memikirkannya. Tapi sekarang aku sedang sibuk karena aku mau pergi ke sekolahku yang baru.” Ia lari ke tempat Mama menunggu sambil berteriak, “Aku ingin jadi penjual karcis!” Mama tidak kaget. Dia hanya berkata, “Kukira kau ingin jadi mata-mata.” Berjalan sambil memegangi tangan Mama, Totto-chan ingat, sampai kemarin dia masih yakin ingin menjadi mata-mata. Tapi asyik juga kalau harus mengurusi sekotak penuh karcis kereta. “Aku tahu!” Gagasan hebat terlintas di kepalanya. Dia menengadah memandang Mama, lalu berteriak keras-keras, “Bukankah aku bisa jadi penjual karcis yang sebenarnya mata-mata?” Mama tidak menjawab. Wajah cantiknya yang ditudungi topi felt berhiaskan bunga-bungaan mungil tampak serius. Sebenarnya Mama sangat cemas. Bagaimana kalau sekolah baru itu tidak mau menerima Totto-chan? Dia memandang Totto-chan yang melompat-lompat sepanjang jalan sambil berbicara pada dirinya sendiri. Totto-chan tidak tahu Mama merasa khawatir. Jadi ketika mata mereka bersitatap, dia berkata riang, “Aku berubah pikiran. Aku akan bergabung dengan kelompok pemusik jalanan yang selalu berkeliling sambil mengiklankan toko-toko baru!” Suara Mama terdengar putus asa ketika berkata, “Ayo cepat! Kita bisa terlambat. Kita tidak boleh membuat Kepala Sekolah menunggu. Jangan ceriwis. Perhatikan jalanmu dan berjalanlah dengan benar.” Di depan mereka, di kejauhan, gerbang sebuah sekolah kecil mulai kelihatan. (Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela, Tetsuko Kuroyanagi)
•
Dalam memahami karakter tokoh dari sebuah
novel yang diperdengarkan atau
kalian simak,
kalian tentu harus dapat menyimak dengan baik. Dalam hal ini,
kalian harus benar-benar dapat menangkap isi cerita secara kronologis,
detail, dan lengkap, terutama pada bagian-bagian yang
berkaitan dengan penokohan.
Pada dasarnya, dalam sebuah novel terdapat beberapa karakter tokoh, yaitu:
1. karakter yang berkaitan dengan posisi; tokoh utama, pembantu, tokoh biasa;
2. karakter yang berkaitan dengan sifat; lembut, kasar, pemarah, sabar, gegabah, dan lain-lain;
3. karakter yang berkaitan dengan peran: antagonis, protagonis, dan netral.
Berkenaan dengan novel di atas, judul asli novel tersebut adalah Totto-chan. Berdasarkan kutipan novel di atas dapat diberikan beberapa simpulan berkaitan dengan karakter tokoh yang ada. Secara implisit (tersirat atau tidak dikemukakan langsung pada bacaan), karakter tokoh dalam kutipan novel tersebut sebagai berikut.
Pada dasarnya, dalam sebuah novel terdapat beberapa karakter tokoh, yaitu:
1. karakter yang berkaitan dengan posisi; tokoh utama, pembantu, tokoh biasa;
2. karakter yang berkaitan dengan sifat; lembut, kasar, pemarah, sabar, gegabah, dan lain-lain;
3. karakter yang berkaitan dengan peran: antagonis, protagonis, dan netral.
Berkenaan dengan novel di atas, judul asli novel tersebut adalah Totto-chan. Berdasarkan kutipan novel di atas dapat diberikan beberapa simpulan berkaitan dengan karakter tokoh yang ada. Secara implisit (tersirat atau tidak dikemukakan langsung pada bacaan), karakter tokoh dalam kutipan novel tersebut sebagai berikut.
•Totto-chan: seorang bocah yang
aktif, cerdas, ingin banyak tahu, memiliki keinginan-keinginan pada hal-hal yang
dianggap menarik, serta sayang terhadap barang atau benda yang
dianggapnya berharga.
Hal-hal tersebut dapat dilihat dalam kutipan pada paragraf pertama, paragraf 14, dan lainnya.
•Mama:
seorang yang
cantik, terlalu mudah khawatir, perhatian, dan sedikit mudah putus asa. Hal
tersebut dapat dilihat dari beberapa paragraf menjelang akhir kutipan.
•Tukang karcis: tegas dan perhatian, gemuk, berkacamata, serta baik hati. Hal
tersebut dapat dilihat pada awal cerita dan pada paragraf 8.
•
Tema
adalah
sesuatu
yang menjadi
dasar
pembicaraan
dalam
cerita.
Tema
merupakan
sesuatu
yang menjiwai
cerita.
Tema
sebuah
cerita
dapat
ditentukan
setelah
cerita
itu
selesai
dibaca
atau
didengarkan.
Tema
novel remaja
biasanya
berkisar
masalah
percintaan,
kehidupan
remaja
di sekolah
atau
di kampus.
Latar (setting) merupakan lukisan tempat, waktu, dan suasana terjadinya peristiwa. Latar memberikan pijakan cerita secara konkret dan jelas. Latar dapat menciptakan kesan realistis dan menciptakan kesan seolaholah peristiwa peristiwa itu sungguh-sungguh ada.
Latar tidak hanya digambarkan secara fisik saja tetapi juga dapat berupa tata cara, adat istiadat, kepercayaan, nilai-nilai yang berlaku. Latar berfungsi agar cerita tampak lebih hidup serta menggambarkan situasi psikologis atau situasi batin tokoh.
Latar (setting) merupakan lukisan tempat, waktu, dan suasana terjadinya peristiwa. Latar memberikan pijakan cerita secara konkret dan jelas. Latar dapat menciptakan kesan realistis dan menciptakan kesan seolaholah peristiwa peristiwa itu sungguh-sungguh ada.
Latar tidak hanya digambarkan secara fisik saja tetapi juga dapat berupa tata cara, adat istiadat, kepercayaan, nilai-nilai yang berlaku. Latar berfungsi agar cerita tampak lebih hidup serta menggambarkan situasi psikologis atau situasi batin tokoh.
•
Dalam menjelaskan tema dan latar novel,
kalian
perlu memerhatikan langkah-langkah berikut.
1. Menyimak dengan konsentrasi, cermat, dan teliti.
2. Memahami inti cerita yang dapat ditangkap secara utuh.
3. Memerhatikan unsur-unsur intrinsik cerita, terutama berkenaan
dengan tema dan latar.
1. Menyimak dengan konsentrasi, cermat, dan teliti.
2. Memahami inti cerita yang dapat ditangkap secara utuh.
3. Memerhatikan unsur-unsur intrinsik cerita, terutama berkenaan
dengan tema dan latar.
•
Mendeskripsikan
adalah
memberikan
gambaran
atau
sketsa
mengenai
sebuah
perihal,
sehingga
penerima
(pendengar
atau
pembaca)
dapat
menangkap
perihal
yang dimaksud
dan
memiliki
gambaran
dari
perihal
tersebut.
Alur
adalah
rangkaian
peristiwa
yang direka
dan
dijalin
menjadi
jalan
cerita
melalui
kronologis
peristiwa
ke
arah
klimaks
dan
penyelesaian.
Mendeskripsikan
alur
sebuah
novel berarti
memberikan
penggambaran
mengenai
jalan
cerita
dan
novel tersebut.
Penggambaran
itu
meliputi
jalan
cerita
dalam
novel yang merangkai peristiwa
atau
kisahan
dalam
novel.
Alur
dapat
dibedakan
menjadi
tiga
yaitu:
1. Alur
maju,
yaitu
bagian
alur
disajikan
secara
berurutan
dari
tahap
awal
hingga
akhir
cerita (alur
progresif)
2. Alur
mundur,
yaitu
alur
yang menceritakan
lebih
duli
bagian
akhir
cerita
baru
menuju
bagian
awal
atau
alur
yang menyampaikan
suatu
jalinan
cerita
urutan
waktu
yang terkini
hingga
waktu
yang paling lampau
(flashback)
3. Alur
maju
mundur
(gabungan),
yaitu
alur
yang menceritakan
secara
kronologis,
tetapi
pada
bagian
tengah
cerita
disampaikan
kejadian
masa
lalu
atau
sebaliknya.
•
Alur suatu cerita/novel
terdiri atas:
1.Pemaparan/pendahuluan, yaitu merupakan bagian cerita temapat pengarangmulai melukiskan suatu keadaan yang
menjadi awal cerita
2.Penggawatan, yaitu merupakan bagian yang
melukiskan tokoh-tokoh dalam cerita mulai bergerak
3.Penjajakan, yaitu bagian cerita yang
melukiskan konflik-konflik yang
terjadi mulai muncul
4.Puncak/klimaks, yaitu merupakan bagian yang
melukiskan peristiwa mencapai puncaknya
5.Peleraian, yaitu merupakan bagian cerita yang
memberikan pemecahan dari semua peristiwa yang
telah terjadi dalam cerita atau bagian-bagian sebelumnya.
•
Daftar
pustaka
:
qSarwiji,
suwandi
dan
Sutarmo
2008. Bahasa
Indonesia Bahasa
Kebanggaanku untuk SMP/MTs kelas VIII. Jakarta
: Pusat
Perbukuab
Departemen
Pendidikan
Nasional.
qLaksono,
Kisyani
dan
Nurhadi.
2008. Contextual Teaching and Learning Bahasa
Indonesia: Sekolah
Menengah
Pertama/Madrasah
Tsanawiyah
Kelas
VIII Edisi
4. Jakarta:
Pusat
Perbukuan,
Departemen
Pendidikan
Nasional
•
Tidak ada komentar:
Posting Komentar